Selasa, 12 Mei 2020

Miftah al-Shadiqiyah fi ishthilahi al-Naqsyabandiyah fi Zhan al-Kadzibihi : Padangan Syekh Khatib Terhadap Pemikiran Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi Dalam Kitab Izhar Zaghlu al-Kadzibin fi Tasyabbuhihim bi al-Shadiqin

Miftah al-Shadiqiyah fi ishthilahi al-Naqsyabandiyah fi Zhan al-Kadzibihi :

Padangan Syekh Khatib Muhammad Ali Terhadap Pemikiran Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi Dalam Kitab Izhar Zaghlu al-Kadzibin fi Tasyabbuhihim bi al-Shadiqin

Oleh Chairullah.

 

“Alhasil pada mafhum hamba yang qasir  tiadalah kitab izhhar zaghl al-kadzibin itu membatalkan akan istilah-istilah dan isyarat-isyarat Tarekat Naqsyabandiyah yang terkandung pada istilah penghulu kita Naqsyabandiyah” (Syekh Khatib Muhammad Ali).

Syekh Khatib Ali merupakan sosok ulama terkemuka dari kaum tua setelah Syekh Saad Mungka, ia adalah sosok ulama yang teguh dan kuat dalam melaukan apologetik terhadap tarekat Naqsyabandiyah dari serangan kaum muda. Begitu banyak karya-karya yang ditulis oleh Ahmad Khatib terkait polemik keagamaan yang terjadi di Minangkabau, sehingga bisa dikatakan ia adalah pioner dari kaum tua di Minangkabau.

Pada tahun 1905 tepatnya tanggal 4 Zulkaidah dikirimlah sebuah risalah dengan judul Izhar Zhagl Kadzibin yang kemudian selesai dicetak pada tahun 1906 dan beredar cepat di tengah masyarakat. Kitab ini ditulis oleh Syekh Ahmad Khatib, ulama asal Minangkabau yang  berdomisili di Makkah dengan jabatan Mufti Syafii dan menjadi guru dari kebanyakan ulama Minangkabau pada masa itu, baik dari kaum tua dan kaum muda. Kitab ini ditulis untuk menjawab 5 (lima) pertanyaan yang muncul dari seorang muridnya dari Minangkabau, yang dalam kitab Miftah al-Haq disebutkan bahwa orang itu adalah H. Abdullah Ahmad. Semua pertanyaan yang dikirimkan hanya memiliki satu hakekat saja yakni tentang Tarekat Naqsyabandiyah, seperti yang diungkap oleh Syekh Khatib Ali dalam kitab Miftah :

Amma ba’du adapun kemudian daripada itu maka pada hijrah Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam seribu tiga ratus duapuluh empat datang subhat paham setengah orang yang mengamalkan Tarekat Naqsyabandiyah pada Negri Minangkabau sebab disubhatkan oleh setengah yang tiada ahlinya.

Maka tersangka daripada setengah mereka itu bahwa orang yang mengamalkan Tarekat Naqshabandiyah itu tiada baginya syariat, dan Tarekat Naqsyabandiyah itu tiada baginya asal pada syarak, dan tersangka pula oleh orang yang mengamalkan Tarekat Naqsyabandiyah. Bermula orang yang berkata dengan demikian itu keluar ia dari agama Islam sebab mengkafirkan orang Islam dengan tuduhan tiada baginya syari’at, padahal orang yang mengamalkan Tarekat Naqsyabandiyah itu mentauhidkan ia akan Tuhan dan membenarkan ia akan Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam dan percahaya ia akan kitab dan sunnah dan mendirikan ia akan barang yang diwajibkan oleh syarak, seperti sembahyang, dan puasa pada bulan Ramadhan, dan membayarkan zakat, dan lainnya barang yang diwajibkan atasnya dan meninggalkan barang yang diharamkan oleh syara’ atasnya.

Maka pada tahun yang tersebut itu telah terbit dari percetakkan Padang kitab yang bernama Izhhar zaghlu al-kadzibin fi tasyabbuhihim bi al-shadiqin karangan al-‘alim al-‘alamah syaikhuna al-Syaikh Ahmad Khathib al-Imam pada maqam Syafii Makkah al-Musyarafah. Jawab soal dari Sa’il yang bertanya kepada yang mulia itu, dan tiadalah diketahui dengan  nyatanya siapakah ia sa’il  //2// itu karena tiada tertulis namanya pada kitab itu tetapi yang me[ng]usahakan al-Haj ‘Abdullah bin Ahmad Padang Panjang, mudah-mudahan itulah sail-nya kitab itu.”

Kemunculan kitab Izhar di Minangkabau mengguncang masyarakat penganut tarekat Naqsyabandiyah, hingga muncul sosok ulama penganut tarekat Naqsyabandiyah melakukan apologetik terhadap tarekat Naqsyabandiyah, yakni Syekh Saad Mungka. Namun, tidak semua dari ulama tradisional atau kaum tua yang menganggap kitab Izhar mengecam dan membatalkan tarekat Naqsyabandiyah, namun lebih kepada menjelaskan tarekat yang seharusnya dan tarekat yang ideal sesuai Alquran dan Hadis. Sosok ulama yang mempahamkan kitab Izhar sebagaimana tersebut tadi ialah Syekh Khatib Muhammad Ali, seperti yang dijelaskan Syekh Katib Ali dalam Miftah :

“Maka pada mempahamkan kitab itu bertambah-tambah syubhat setengah mereka itu. Kebanyakan orang mempahamkan bahwasanya kita Izhhar Zaghlu al-Kadzibin itu membatalkan akan Tarekat Naqsyabandiyah, karena bahwasanya Tarekat Naqsyabandiyah itu tidak ada asal syara’ dan tidak ada pada masa Nabi kita Shalallahu wa sallam dan masa Sahabat Nabi dan masa Tabi’ tabi’in, dan mengatakan ia dengan bid’ah dan menzahirkan ia akan yang dipahamkan itu pada hal tahqiq pekerjaan belum diketahuinya.

Dan setengah orang yang mempahamkan bermula kitab Izhhar Zaghl al-Kadzibin itu tiadalah membatalkan akan Tarekat Naqsyabandiyah yang pada istilah-istilah mereka itu dan isyarat-isyarat mereka itu dan ahlinya barang yang beri’tiqad dengan iktikad ahlussunnah wal jama’ah dan beramal ia dengan menurut amalan syari’at Nabi kita Shalallahu ‘Alaihi wasallam, melainkan membatalkan setengah orang mengamalkan atau menurunkan yang belum ia ahlinya, atau orang yang menambah asal istilah al-Sadah al-Naqsyabandiyah yang bersalahan ia dengan syariat yakni menambah ia dengan barang yang tiada diharuskan oleh syarak.”

Bedah buku atas pemikiran Syekh Ahmad Khatib dalam Izhar pernah akan dibedah oleh ulama kaum tua dan kaum muda di Padang, apakah benar-benar membatalkan atau bukan, dibuatlah jadwal pertemuan yang disepakati, namun tidak ada perwakilan kaum muda yang hadir pada waktu yang telah dijadwalkan, seperti yang diungkap dalam Miftah :

“Maka adalah pada Negri Padang pada satu malam tahun seribu tiga ratus dua puluh lima telah jadi qala dan qila artinya soal jawab antara setengah mereka itu dengan setengahnya dengan wasithah pertanyaan seorang awam pada satu perkumpulan kenduri, maka pada malam itu tiadalah me[ng]habiskan akan yang dimaksud oleh setengah mereka itu yakni tiadalah dapat tahqiq pekerjaan dan keputusan pengajian itu, maka berjanjilah mereka itu hendak jam’iyah dengan munazharah ­thalib al-haq //3// akan muraja’a kepada beberapa kitab yang muktabar dengan beristifham, karena firman Allah taala fain tanaza’tum fi syai’in faradduhu ila Allahi ta’ala wa al-Rasul artinya jika berbantah kamu pada suatu maka kembalilah kamu akan dia kepada Allah ta’ala dan Rasul. Artinya kitabnNya dan kepada Rasulullah artinya kepada hadits. Bermula kembali kepada yang hak ibadat seperti yang berkata ulama, dan ikrar mereka itu tiada akan mengikut hawa melainkan semata-mata mencari yang hak qala ta’ala idza ja’a al-haqqu aw zahaqa al-bathil artinya firman Allah ta’ala apabila datang yang hak dan pergi yang batil, dan pada ketika sampai janji itu enggan orang yang menyangka batal Tarekat Naqsyabandiyah itu yaitu orang yang mempahamkan Izhhar zaghl al-Kadzibin itu pada membatalkan Tarekat Naqsyabandiyah, tiadalah hadir mereka itu kepada majelis munazharah itu, dan berkata ia bermula menolakkan mufsadah artinya binasa baik daripada mengambil maslahat artinya baik, karena tersangka olehnya tiada maksud mereka itu akan mencari yang hak qala ta’ala wala yu’min aktsarahum billahi al-azhna anna al-zhanna la yughni min al-haqqi artinya firman Allah ta’ala dan tiadalah iman kebanyakan mereka itu dengan Allah ta’ala melainkan sangka,  bahwasanya sangka itu tiada mengayakan ia daripada yang sebenarnya. Telah diketahui bermula menyempurnakan janji itu hak dan datang ayat Qur’an kepadanya qala Ta’ala manakah segala orang yang beriman mereka itu sempurnakan olehmu apalagi berjanji dengan mencari yang hak pada jalan agama Islam. Bermula sangkamu mufsadah tiadalah sangka itu betul karena dalil yang dihalu itu, tetapi bermula kata kamu Tarekat Naqsyabandiyah bid’ah haram tiada asal pada syarak dan tiada diperbuat masa Nabi dan masa Sahabat dan masa tabi’ dan al-tabi’in bulih perkataan itu membawak kepada mufsidah artinya binasa.”

Kemudian dijelaskan juga oleh Syekh Khatib Ali, ketika kitab Izhar menggemparkan masyarakat di Minangkabau, maka ia berusaha memahami isi kitab tersebut, dan kesimpulan yang didapati; bahwa kitab izhar tidak membatalkan tarekat Naqsyabandiyah, namun membatalkan pengikut tarekat Naqsyabandiyah yang tidak benar, yang menyeleweng terhadap jalan tarekat Naqsyabandiyah yang sebenarnya dan hal itu banyak terjadi pada masa sekarang ini. Dalam pernyataan ini, ada sedikit informasi yang disampaikan oleh Syekh Khatib Ali terkait pengikut tarekat Naqsyabandiyah atau mursyid tarekat Naqsyabandiyah yang melenceng dari ajaran Naqsyabandiyah, dan hal itu banyak terjadi di Minangkabau. Diakui sendiri oleh Syekh Khatib Ali bahwa tarekat ini banyak diturunkan atau diwariskan kepada orang-orang yang kurang tepat. Hal ini dapat dilihat dalam Miftah :

“Maka tatkala banyak kacau balau paham mereka itu bersungguh-sungguh hamba mempahamkan kitab Izhar zaghl al-kadzibin itu, dan kitab-kitab yang menguraikan Tarekat Naqsyabandiyah, supaya mengetahui hamba akan maksud kitab izhar zagl kadzibin itu, maka kedapatan oleh mafhum hamba yang pendek bahwa kitab itu tinggi ibaratnya halus qayidnya dan berbagai-bagai kandungan maknanya dan mafhumnya, dan setengah ibaratnya boleh jadi terhadap kepada membatalkan Tarekat Naqsyabandiyah dengan segera memandang orang yang mengamalkan sekarang, karena setengah mereka itu tiada memperlakukan sepanjang istilah penghulu Naqsyabandiyah, dan setengah ibaratnya menguatkan dan memperteguh akan Tarekat Naqsyabandiyah yang ia pada istilah mereka itu, dan memuji ahlinya dan orang yang mengembalikan yang melengkapi padanya rukun dan syarat beramal dengan jalan syari’at dan Tarekat.

Alhasil pada mafhum hamba yang qasir  tiadalah kitab izhhar zaghl al-kadzibin itu membatalkan akan istilah-istilah dan isyarat-isyarat Tarekat Naqsyabandiyah yang terkandung pada istilah penghulu kita Naqsyabandiyah, karena mereka itu beriktikad dengan i’tikad ahlusunnah wal jama’ah, dan beramal mereka itu dengan aturan syariat yang ia didalam salah satu mazhab yang empat, yaitu Hanafi dan Maliki dan Syafii dan Hanbali, dan suci Tarekat mereka itu daripada kekeruhan jahiliyah. Bermula tarekat mereka itu taqwa Allah artinya takut akan Allah ta’ala dengan berkekalan ubudiyah dan ikhlas hati daripada ghairu Allah artinya selesai hati daripada selain Allah ta’ala.

Hanya membatalkan kitab itu akan barang yang dibatalkan oleh penghulu Naqsyabandiyah juga, yaitu setengah orang yang mengamalkan atau menurunkan //5//

akan Tarekat Naqsyabandiyah yang ia belum ahlinya artinya belum ia selesai daripada fardhu ‘ain dan bimbang mereka itu dengan Tarekat Naqsyabandiyah yang tinggi itu dan lain tarekat, padahal pekerjaan mereka itu tiada di dalam peraturan syara’ dan tiada pula di dalam lingkungan tarekat yang pada istilah mereka itu. Dan mengambil setengah mereka itu dengan sekira-kira nama saja akan pencari jalan kepada dunia tiada jalan kepada Allah ta’ala, dan membid’ahkan ia akan kaifiyat yang tiada ada tersebut dengan asal syara’ yang ia tiada memperbuat Nabi kita shalallahu ‘alaihi wasallam. Bermula kaifiyat itu dikatakan tarekat Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam. Ketahui olehmu bermula bid’ah itu yang disebutkan oleh Shaykhuna al-Shaykh Ahmad Khatib di dalam kitab Riyad al-wardhiyah pada halaman 93 adalah bahaginya lima perkara tiadalah tiap-tiap bid’ah itu haram ada kalanya bid’ah wajib dan ada kalanya bid’ah sunnah dan ada kalanya bid’ah makruh dan ada kalanya bid’ah mubah dan janganlah tersangka pula olehmu bid’ah haram, karena banyak bid’ah yang ia menjadi wajib seperti pedoman bagi mengenal kiblat dan ilmu Ma’ani, Bayan, Badi’ dan lainnya, dan apabila hendak mengetahui engkau akan perkara bid’ah itu maka kembalilah kepada kitab Riyadh al-Wardiyah itu. Karena demikian itu hendak al-haqir al-Dha’if al-Qashir Muhammad Ali bin Abdul Muthalib al-Khalidi Sungai Pagu akan me(n)nyatakan istilah penghulu Naqsyabandiyah Qaddasa Allah Sirrahum, dan orang yang ingkar atasnya dan ketinggian Tarekat Naqsyabandiyah itu hamba nukilkan yang tersebut itu dari kitab Sayyid Shaykh Sulaiman Zuhdi Naqsyabandiyah dan tuan Shaykh Muhammad Yatim al-Khalidi Padang waktu hari arba’ tiga belas safar hijrah seribu tiga ratus dua puluh lima dan dari Ihya’ ‘ulum al Din.

Bermula maksud hamba dengan menterjemah risalah itu menolakkan setengah subhat orang yang mempahamkan akan kitab Izhar itu, tersangak olehnya Syekhuna Syaikh Ahmad Khatib membatalkan istilah tarekat Naqsyabandiyah di dalam kitab Izhar itu. Pada hal hakikat pekerjaan tiada tiada seperti demikian, dan menolakkan sangka orang yang mengamalkan tarekat Naqsyabandiyah menyangka setengah mereka itu bermula kitab Izhar itu tiada shahih, padahal beberapa padanya kata kitab dan hatits dan kata-kata ulama yang dinukilkan Syaikhuna, dan supaya orang yang menyangka batal tarekat Naqsyabandiyah itu menimbang ia akan istilah penghulu Naqsyabandiyah antara perkataan Izhar itu dengan timbangan Ahlusunnah waljama’ah dan timbangan Ahlu syari’ah, dan supaya setengah khalifah-khalifah Naqsyabandiyah yang belum ia ahlinya pada ini zaman yang menurunkan akan tarekat Naqsyabandiyah yang tiada menurut akan istilah penghulu Naqsyabandiyah, bahwa insaf ia akan dirinya dengan kembali kepada yang hak pada isitilah  //7//

 mereka itu, dan jika tiada ia kembali adalah ia berkhusumah dengan penghulu Naqsyabandiyah karena meubah istilah mereka itu dan didakwakan bermula perubahan itu tarekat Naqsyabandiyah, mudah-mudahan Allah dengan ikhlas niat hamba kepada Allah ta’ala dengan risalah yang kecil itu dapat nasehat hamba dan orang yang tersalah dengan bersegera taubat kepada Allah ta’ala.

Dan tiadalah hamba akan mu’taridh melawan Syaikhuna Syaikh Ahmad Khathib melainkan kadar menuntut yang hak juga, dan tiada pula niat hamba hendak mencacat dan mencela atas khalifah-khalifah yang tiada menurut peraturan-peraturan syari’at dan istilah Naqsyabandiyah, melainkan kadar nasehat karena kata Nabi Shalallahu ‘alaihi wasalla : al-Dinu al-nashihatu lillahi wa lirrasuli shalallahu ‘alaihi wasallam” artinya bermula agama nasehat bagi Allah ta’ala dan bagi Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, supaya kembali mereka itu kepada yang hak dengan memakaikan peraturan dan rukun-rukunnya dan syarat-syaratnya bagi orang yang meminum mereka itu akan minuman ahli kaum orang yang bersih mereka itu daripada Ahlullah dan Auliya’ullah.

 

Pasaman, 12 Mei 2020


 

 

 

 

 

 

 

Jumat, 29 September 2017

Puisi Islam Klasik

oleh Chairullah Ahmad

Sebelum membahas tentang puisi Islam di Nusantara, penting juga menjelaskan sedikit tentang masuknya Islam ke Nusantara. Terjadi perbedaan pendapat tentang masuknya Islam ke Nusantara dikalangan ahli sejarawan, namun beberapa bukti menjelaskan bahwa Islam telah masuk ke wilayah Nusantara pada abad 7 M yang dibawa oleh orang Arab.
Hal ini terdapat dalam catatan sejarah Tiongkok yang menyebutkan pada pertengahan kurun yang ketujuh, terdapatlah sebuah kerajaan bernama Holing, dan sebuah Negri bernama Cho-p’o. Yang menjadi raja itu ialah seorang perempuan bernama Si-mo. Dalam sejarah Tiongkok ini juga dijelaskan bahwa pada tahun 674-675 bangsa Ta-Cheh  melawat ke Negri Holing, hendak berhubungan dengan Raja perempuan Si-mo, supaya perniagaan kedua Negri Ramai. Bangsa Ta-Cheh itu adalah bangsa Arab, sebab Ta-Cheh itu ialah nama yang diberikan orang Tiongkok kepada bangsa Arab Pada zaman-zaman itu. Sedangkan Kerajaan Holing ialah Kerajaan Kalinga, yang memang pernah berdiri di Jawa Tengah (kata setengah penyidik) dan di Jawa Timur (kata setengah penyidik) pada pertengahan kurun abad ketujuh. Dan memang ada seorang Ratu yang bernama Sima atau Simo, sedangkan Cho-Po adalah tanah “Jo-wo”[1].
Pengaruh Islam di Nusantara sangat terlihat jelas Pada abad ke 15-16 M, hal ini dibuktikan dengan berkembangnya ajaran Islam serta beberapa tradisi Arab  yang mempengaruhi Islam di Nusantara, karena memang sampainya Islam ke Nusantara adalah atas jasa pedagang Arab. Diantara pengaruh tersebut dapat kita lihat dalam tradisi sastra Melayu dalam bentuk Puisi atau Sya’ir yang berasal dari bahasa arab yaitu syi’ir. Syi’ir adalah suatu kalimat yang sengaja disusun dengan menggunakan irama dan sajak yang mengungkapkan tentang khayalan atau imaginasi yang indah.[2]
Selain syi’ir kita juga mengenal istilah qasidah dan nazham dalam Sastra Arab yang memiliki perbedaan satu sama lain, seperti jika memiliki unsur khayal dan memiliki bait maksimal 21 bait disebut dengan syi’ir, jika melebihi 21 bait maka ia dinamai qasidah, dan jika tidak memiliki unsur khayal maka ia disebut juga dengan nazham. Sedangkan dalam Sastra Melayu Nusantara syi’ir, dan nazham sama saja[3], sedangkan qasidah tidak terdapat dalam sastra Melayu, hanya saja qasidah itu adalah sebuah lagu Islami.
Puisi dan sya’ir lahir di Nusantara pada abad 16 M, sebelumnya suatu puisi yang persis memenuhi syarat untuk disebut sebagai sya’ir tidak terdapat di dalam sastra lisan Melayu atau bangsa-bangsa lain di Nusantara. Namun contoh puisi tertu ditemukan dalam karya Hamzah Fansuri seorang penyair besar Sufi yang hidup dalam pergantian abad ke 16 M, dan mungkin sekali dialah bapak dari genre ini, dalam kitabnya Asrar al-Arifin ia menerangkan tentang bentuk sya’ir yang secara tidak langsung menjadi bukti bagi kita bahwa sya’ir menjadi sebuah gendre baru semasa hidupnya itu. Beberapa ilmuwan terdahulu menganggap sya’ir Melayu merupakan pengaruh dari puisi Arab dan Persi, karena sya’ir melayu yang berpola aaaaa mirip dengan ruba’i Parsi yang sangat terkenal[4].
Contoh-contoh puisi Islam Nusantara :
Inilah gerangan / suatu madah
Mengarang syai r / terlalu indah
Membetuli jalan / tempat berpindah
Disanalah i’tikad / diperbetuli sudah

Wahai muda / kenali dirimu
Ialah perahu / tamsil tubuhmu
Tiadalah berapa / lama hidupmu
Ke akhirat jua / kekal diammu
Sya’ir diatas adalah sya’ir perahu yang ditulis oleh Hamzah Fansuri, masih banyak sya’ir yang ia tulis beberapa bait sya’ir nya telah di sarah oleh Samsuddin Sumatrani dalam sebuah manuskrip yang berjudul “syarh ruba’i Hamzah Fansuri” beberapa sarah tersebut dapat kita lihat dibawah ini :
Syi’ar “Allah maujud terlalu Bâqi * dari enam jihat......hâli” adapun  maujud itu pada orang tahqiq yang ada sendirinya artinya Qâim bi nafsihi yaitu kepada martabat. Kata Shaykh Muhammad anak Shaykh Fadhlullah Radhiallahu ‘anhu Wujŭdihâ bidzâtihâ artinya berdiri sendirinya baqi itu ma’nanya kekal artinya yang maujud itu dan baqi itu daripada azali datang kepada .......artinya lain daripadanya tiada harus dikatakan maujud dan baqi dan jihat ma’nanya pihak yaitu kiri dan kanan dan belakang dan hadapan dan bawah[5].
Dari sarah ini dapat kita lihat betapa monumentalnya sya’ir yang ditulis oleh Hamzah Fansuri, dipenuhi dengan simbol-simbol yang memiliki makna yang harus dipecahkan maksud dan tujuannya.
Johan perkasa / syah alam
Menentang qaba qausayn / pada siang dan malam
Ke bahrul adam / ia tenggelam
Arif bijaksana / zuqnya dalam

Hendaklah ku pandang / kapas dan kain
Bangsanya satu / namanya berlain
Satukah Allahumma / zhahir dan bathin
Itulah ilmu / kesudahan main[6]
Pada sya’ir di atas ini dapat kita temui beberapa kata yang menggunakan bahasa arab dan mengandung simbol-simbol, diantaranya menjelaskan Insan Kamil dan Wahdah al-Wujud.  Kata qaba qausayn adalah sebuah sebutan bagi rintangan orang-orang yang ingin mencapai maqam insan kamil, kata qaba qausayn ini dijelaskan pada sebuah manuskrip yang membahas tentang martabat tujuh di Payakumbuh Sumatra Barat. Sedangkan ajaran Wahdah al-Wujud dapat kita lihat pada kata-kata :
Hendaklah ku pandang / kapas dan kain
Bangsanya satu / namanya berlain
Tidak hanya puisi yang berbahasa Melayu bahkan nazham yang berbahasa Arab pun juga telah dihasilkan oleh ulama Nusantara seperti nazham di bawah ini :
حَسِّنْ ثِيَابَكَ مَا اسْتَطَعْتَ فَإِنَّهَا * زَيْنُ الرِّجَالِ بِهَا وَيُعَزّ ُوَيُكْرَمُ
baikkan olehmu akan pakaianmu berapa kuasamu * maka bahwasanya ianya ialah perhiasan segala laki – laki dengan dialah serupakan

وَدَعِ التَّوَاضُعَ فِيْ الثِّيَابِ تَخَشُّنًا * فَاللهُ يَعْلَمُ مَا تُسِرُّ وَمَا تَكْتُمُ
dan tinggalkanlah olehmu tawadhu’ akan ada pada pakaian berbuat kasar – kasar * maka Allah ta’ala mengetahui akan barang yang engkau rahasiakan dan engkau sembunyi
Naskah ini ditulis di Riau, tidak ditemukan siapa penulisnya namun ini jelas karya ulam nusantara, karena di dalam nazham ini penulisnya mencela beberapa ulama Nusantara lainnya seperti Abdul ‘Azim Madura[7], pada kertasnya dan beberapa nama yang dicela dalam sya’ir ini dapat di indikasikan nazham ini ditulis setelah pertengahan abad 19 M.



[1] Untuk lebih lanjut baca HAMKA, Dari Perbendaharaan Lama, (Medan : Maju, 1963) 9-10. Hal ini juga diperkuat oleh pendapat Arnold yang dikutip oleh Azyumardi Azra dalam buku Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII, (Jakarta: Kencana, 2007) 6.
[2] Mas’an Hamid, Ilmu Arudl dan Qawafi, (Surabaya:Al-Ikhlas, 1995), h. 13
[3] Hal ini dapat kita lihat pada beberapa karya Ulama Nusantara seperti Tsamaratul Ihsan fi Wiladatil Saydil Insan yang berisikan tentang sejarah kehidupan Nabi dari masa sebelum kelahirannya hingga wafatnya dalam bentuk sya’ir berbahasa melayu yang disebut sebagai sya’ir oleh penulisnya yaitu Shaykh Sulaiman ar-Rusuly pendiri Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti) pada tahun 1920.
[4] Lihat Braginsky, Yang Indah, Berfaedah dan Kamal, Sejarah Sastra Melayu Dalam Abad 7-19 (Jakarta: INIS, 1998)226-227.
[5] Syarh Ruba’i ini ditulis pada abad ke 17 oleh Shaykh Samsuddin Sumatrani, sedangkan manuskripnya ditemui di Sumatra Barat yang telah di Inventarisasi dan di digitalisasi oleh tim SULUAH Padang.
[6] Sya’ir ini terdapat pada sebuah manuskrip di Simpang Tonang Pasaman Sumatra Barat, sya’ir ini terhimpun dengan sya’ir perahu milik Hamzah Fansuri, namun tidak disebutkan siapa penulisnya. Dari segi kertasnya dapat kita tentukan sya’ir ini ditulis pada abad ke 18 dilihat dari water mark yang terdapat pada kertas manuskrip ini.
[7] Naskah ini ditemukan di Rao Pasaman Barat dan telah diteliti oleh Syofyan Hadi.

Senin, 25 September 2017

Abdurrahman al-Bawani
Ulama Berkarya yang Hilang Dalam Kabut Sejarah

Oleh : Chairullah Ahmad

Dalam sejarah Islam Minangkabau siapa yang tidak mengenal Syekh Burhanuddin, sosok ulama yang menimba ilmu di Aceh kepada ulama besar saat itu yakni Syekh Abdurrauf bin Ali al-Jawi atau yang dikenal dengan Syekh Abdurrauf Singkel. Kebesaran Syekh Burhanuddin ini terlihat pada genealogi keilmuan yang masih terjaga eksistensinya saat sekarang ini. Tidak hanya itu, sejarahnyapun telah ada ditulis dalam naskah-naskah yang lebih dijumpai di Minangkabau.[1] Sejarah Syekh Burhanuddin juga tidak terlepas dari sejarah para sahabatnya yang saat itu bersama-sama menuju Aceh, mereka adalah Syekh Maruhun, Syekh Muhammad Nasir Koto Tangah, Syekh Tarapang Solok dan Buyuang Mudo Puluik-puluik. Namun, di antara mereka berlima ini, hanya Syekh Burhanuddin yang mendapat ijazah dan diizinkan mengajarkan ilmu agama serta mengembangkannya di Minangkabau[2]. Mendengar Syekh Burhanuddin sudah diizinkan kembali ke Minangkabau, empat orang sahabatnya ini teringat juga akan kampung halaman mereka. Sehingga secara diam-diam tanpa meminta izin kepada Syekh Abdurrauf mereka kembali ke kampung halamannya masing-masing.
Sesampainya di kampung masing-masing mereka mencoba mengajarkan agama Islam, namun ditolak oleh masyarakat saat itu. sehingga tiada tempat bagi mereka dan mengharuskan mereka untuk kembali ke Aceh. Sesampainya di Aceh mereka juga tidak diterima oleh Syekh Abdurrauf, namun dengan kebesaran hati Syekh Abdurrauf menyuruh mereka untuk ke Ulakan dan belajar kepada Syekh Burhanuddin. Dari sinilah mereka mendapatkan ijazah dan kembali ke kampung halaman masing-masing, kemudian mengajarkan dan menyebarkan agama Islam.[3]
Begitulah sedikit sejarah singkat tentang Syekh Burhanuddin yang sudah ditulis oleh beberapa orang. Namun ada beberapa manuskrip dijumpai di Minangkabau yang salinannya lebih dari satu yakni manuskrip dengan judul “Tuhfat al-Ahbaab” dan “Jawaaib al-Musykilaat”. Pada kedua risalah ini dijelaskan :

“maka berkata faqir yang dhaif Abdurrahman namanya, Bawan nama negerinya, Syafi’i nama mazhabnya, Asy’ari nama i’tikadnya, Syattariyah nama tarekatnya, bahwasanya telah meminta kepadanya setengah daripada sahabatku akan bahwa ku perbuat suatu risalah yang semampunya dengan bahasa Jawi pada menyatakan asal i’tikad yang sempurna dan pada menyatakan segala martabat wujud Allah. Maka kuperkenankanlah akan pintanya itu pada harap menuntut pahala daripada Allah pada hari kiamat, dan harap aku akan bahwasanya memberi manfaat ia dengan dia akan segala orang yang menuntut kepada Allah, dan kunamai akan dia Tuhfat al-Ahbaab artinya haluan akan segala orang yang kasih kepada Allah”.

Pada pengantar risalah ini dijelaskan, seorang ulama bernama Abdurrahman yang berasal dari Bawan Sumatera barat yang berposisi setelah Tiku menuju Pasaman Barat. Kemudian dijelaskan bahwa beberapa orang memintanya untuk menulis risalah dalam bahasa Jawi ( Melayu ) untuk menjelaskan i’tikad yang sempurna dan martabat wujud Allah ( martabat tujuh ). Dari ungkapan ini dapat diasumsikan bahwa Abdurrahman adalah sosok ulama besar yang memiliki pengaruh cukup luas. Karena keilmuannya diakui sehingga masyarakat ketika itu meminta pituah atau meminta penerangan kepada Syekh Abdurrahman tentang kajian martabat tujuh. Konsep martabat tujuh ini menjelaskan tentang hubungan Tuhan dengan alam melalui beberapa tahapan pengaturan diri dari Zat, yang bisa dikemukakan. Zat, dengan sifat pengaturan dirinya, adalah mutlak Tunggal (Ahad) ; pada tahap ini Zat disebut sebagai Ahadiyyah, Kesatuan Mutlak. Tahap kedua adalah Wahdah atau Ketunggalan, yakni ketika perbedaan batini muncul dalam Zat. Ini terjadi manakala Zat mengadakan pada diri sendiri dari diri sendiri, yaitu pada gagasan-gagasan tentang segala sesuatu yang muncul di dunia di masa depan. Protottipe ideal dari sesuatu ini disebut a’yan tsabitah; yang secara abadi tunduk dalam pengetahuan dari Zat. Tahap penentuan diri selanjutnya disebut Wahidiyah atau Kesatuan, yakni ketika Zat menentukan sendiri eksistensialitas dalam objek-objek berkenaan dengan prototipe idealnya yakni a’yant tsabitah.[4]
Konsep ini merupakan konsep yang sangat rumit, konsep yang sering menuai polemik. Bahkan Abdurrauf sendiri pernah meminta gurunya Ibrahim al-Kurani agar menulis sebuah risalah untuk menjelaskan konsep wujidiyah ini ( martabat tujuh ). Permintaan itu diterima dan munculah karya yang berjudul “Ithaf Dhaki” selain itu Abdurrauf juga menulis risalah tentang hal ini seperti Bayan Tajalli, Tanbih al-Mashi, Kifat al-Muhtajin dan lain sebagainya. Ini menandakan bahwa konsep wujudiyah ini adalah sebuah konsep yang rumit dan butuh seseorang yang benar-benar memeliki pengetahuan luas agar dapat menjelaskan tentang konsep ini. Di sinilah dapat dinilai tentang keilmuan Syekh Abdurrahman yang menjadi tempat bertanya, tempat meminta penerangan berhubungan dengan martabat tujuh ini.
Pada akhir karyanya Tuhafat al-Ahbaab diterangkan silsilah tarekat yang dimiliki Syekh Abdurrahman yakni :

“Adapun silsilah faqir yang mengarang risalah ini dan pertemuannya dengan sanad silsilah Syattariyah itu, maka yaitu bahwa adalah ia mengambil talqin zikir dan tarekat dan memakai (h-s-r-q-d) dan bai’at daripada Syekhnya yang Arif Billah lagi Kamil Mukamal yaitu Syekh Abdurrauf Aminuddin anak Ali Fansuri, dan lagi dia mengambil daripada Syakh Ahmad Qushasi anak Syekh Muhammad Madani”.

Dari hal ini dapatlah kita pengetahuan baru dan konstruksi sejarah, bahwa selain Syekh Burhanuddin dan empat orang sahabatnya, ternyata ada orang lain asal Minangkabau yang pergi ke Aceh menuntut ilmu dan mendapat ijazah dari Syekh Abdurrauf. Namun sangat disayangkan bahwa biografinya tidak dapat dilacak, tidak ada yang mengetahui. Syekh Abdurahman bisa dikatakan ulama yang kecil dalam sejarah, namun besar dalam intelektual atau karya tulis. Selain dua karya di atas, Syekh Abdurahman juga mempunyai karya lain yang berbicara tentang fiqih.
Salah satu informasi penting yang diketahui untuk mendekatkan analisa pada sosok Abdurrahman ini ialah informasi tentang tahun selesai ditulisnya risalah yang kedua yakni Jawaaib al-Musykilaat, pada akhir karya ini dijelaskan :

“dan adalah selesai daripada mengarang kitab ini pada hijrah seribu seratus dua (1102/1690 M pen) tahun pada tahun ba pada bulan Syawal pada malam jumat pada waktu Isya.”

Dari kolofon yang ditemukan pada naskah ini dapat dilihat bahwa naskah ini atau risalah ini telah beredar dikalangan masyarakat Jawi atau mungkin Minangkabau khususnya 14 tahun sebelum wafatnya Syekh Burhanuddin, karena Syekh Burhanuddin wafat pada tahun 1116 H / 1701 M. Hal ini tentu lebih memperkuat lagi status Syekh Abdurrahman sebagai ulama Minangkabau yang setingkat dengan Syekh Burhanuddin, selain keilmauan yang setingkat dia juga memiliki guru yang sama dengan Syekh Burhanuddin. Namun sangat disayangkan, tak seorangpun menulis sejarah hidupnya layaknya sejarah Syekh Burhanuddin yang sampai kepada kita semua hingga saat ini. Tidak hanya itu saja, bahkan di mana keberadaan makan Syekh Abdurrahman pun hingga saat ini belum dijumpai.



[1] Seperti tulisan Imam Maulana Abdul Manaf Batang Kabuang, dan sebuah manuskrip koleksi penulis sendiri.
[2] Baca Amir Sjarifoedin Tj.A, Minangkabau Dari Dinasti Iskandar Zulkarnain Sampai Tuanku Imam Bonjol, (Jakarta : PT Gria Medika, 2011), 367-410.
[3] baca manuskrip yang berjudul “ Sejarah Islam di Minangkabau “ yang ditulis oleh Imam Maulana Abdul Manaf.
[4] Ansari, Sufism and Shari’ah, ( London: Islamic Fondation,1986), 103-104

Kamis, 21 September 2017

Otentitas Gagasan Ulama Minangkabau Dalam Tata Bahasa Arab
( Prolog )

 Oleh Chairullah Ahmad

Masuknya Islam di indonesia khususnya Minangkabau memberikan pengaruh terhadap masyarakatnya. Kehidupan yang mulanya dipengaruhi oleh Hindu-Budha, telah berubah menjadi islami. Tidak hanya itu, karya-karya sastra yang awalnya dipengaruhi oleh Hindu-Budha juga telah berubah kepada karya sastra islami. Pengaruh islam dalam karya sastra terjadi dalam beberapa periode.
Penyalinan besar-besaran terhdap karya-karya berbahasa Arab menjadi bukti atas keterbukaan masyarakat Indonesia khusunya Minangkabau terhadap perkembangan Islam. Sitim pendidikan pertama dalam bentuk surau diperkenalkan oleh Syekh Burhanuddin sekembalinya dari Aceh setelah mendalami ilmu dalam berbagai bidang tentang Islam kepada Syekh Abdurrauf.[1] Dari surau inilah Syekh Burhanuddin membuat transmisi keilmuan Islam kepada masyarakat di Minangkabau. Dalam mengajarkan Islam ada beberapa pokok keilmuan yang mesti diajarkan ; pertama ilmu tauhid,k edua ilmu tafsir dan hadits, ketiga fiqih, dan keempat yang mungkin sangat penting sekali untuk menyempurnakan pengetahuan terhadap tiga ilmu pokok sebelumnya yakni ilmu bahasa yang teridir dari nahu, sharaf, balaghah dan lain sebagainya. Ilmu tata bahasa Arab ini sangat penting untuk dipelajari dan diketahui, dikarenakan al-Quran turun dengan bahasa Arab, begitu juga hadits dikarenakan Nabi  Muhammad sebagai Rasul yang membawa agama islam lahir dikalangan orang Arab.
Disetiap surau-surau di Minagkabau yang memiliki koleksi manuskrip bisa dipastikan menyimpan karya-karya yang berhubungan dengan empat pokok keilmuan di atas. Untuk tafsir seperti Jalalain dan Khazain, untuk fiqih semisal Minhaj at-T}alibin, dan untuk gramatikal Arab seperti al-Jurumiyah dan Alfiyah.[2] Pada abad 17 hingga abad  20 masehi untuk bidang Aqidah, Tasawuf dan Fiqih telah banyak karya-karya yang dilahirkan oleh ulma-ulama Minangkabau yang merupakan reformulasi dari karya-karya sebelumya dan sebagai bentuk kreatifitas pemahaman mereka dalam bidang tersebut.
Sedangkan untuk karya-karya yang berhubungan dengan gramatikal Arab tidak banyak ditemukan, bisa dikatakan sangat jarang. Selain kitab-kitab al-Jurumiyah dan Alfiyah yang umumnya hampir bisa dijumpai disetiap surau-surau di Minangkabau, memang ada karya-karya lain yg sempat menjadi bahan pembelajaran ilmu gramatikal Arab seperti sebuah manuskrip yang memuat 7 ( tujuh ) teks yang berhubungan dengan tata bahasa Arab.[3] Teks pertama memuat tentang istilah-istilah dalam tata bahasa Arab semisal d}amma, rafa‘, nas}ab, jar dan lainnya. Teks kedua berbicara mengenai bina fi‘il dalam tujuh kategori yakni s}ah{ih}, mud}a>‘af, mithal, ajwaf, naqis, lafif dan mah}muz.
Teks ketiga mengenai ilmu s}arf ( morfologi Arab ) yang pada permulain naskah ini disebutkan bahwa tulisan ini merupakan al-madkhal ( pengantar ) dalam segala kitab-kitab yang besar yang dibagi atas 4 ( empat ) bab.
Teks keempat, kitab Mas}dariyyat al-Burha>ni yang berbicara khusus tentang mas}dar dalam bahasa Arab yang disertai dengan rujukan kepada Imam Sibawaihi. Kitab ini ditulis berdasarkan beberapa himpunan ungkapan ahli sharf dan nahwu dan sebagian dari kutipan kitab yang bernama Burha>ni>.
Teks kelima, Khulas}ah al-Ashraf mengenai ilmu sharaf, agaknya kitab ini lahir berdasarkan permintaan seseorang yang tidak disebutkan namanya. Kitab ini terdiri dari 6 ( enam ) bab yaitu, mukaddimah, 4 ( empat ) bab mengenai tas}rif fi‘il dan penutup. Teks ini ditulis oleh orang Ulakan Pariaman yang bernama Ja‘far.
Teks keenam, Risalah Burhaniyyah yang merupakan komentar ( syarah ) terhadap sebuah matan dalam ilmu sharf yang ditulis oleh Imam Shams al-Millah wa al-Di>n al-Mu‘zi.[4]
Teks ketujuh, kitab Jadwa>l yang berisikan tentang ilmu sharf yang pada pengantarnya dijelaskan bahwa kitab ini ditulis berdasarkan pembagian kalam ( kata ) Arab kepada tiga bagian yakni ism, fi‘il, harf.
Berdasarkan manuskrip ini dapat dipastikan bahwa pembelajaran tentang tata bahasa Arab pada abad 17 M telah sangat mendalam.[5] Selain itu literasi (tradisi tulis) dalam bidang tata  bahasa Arab dengan otentitas gagasan telah dimulai.
Meskipun demikian, jika dilihat kepada masa yang lebih sedikit canggih daripada abad 17 M yakni abad ke 20 M, di mana telah terdapat mesin cetak. Sehingga pada masa ini banyak karya-karya yang bisa didapati dan dibeli hasil cetakannya. Kemajuan teknologi ini juga dimanfaatkan oleh ulama-ulama Minangkabau dalam berdakwah, sehingga banyak muncul berbagai majalah-majalah dan risalah-risalah yang berhubungan dengan berbagai konteks, baik itu pendidikan hingga polemik pemikiran dan paham keagamaan.[6]
Jika dilihat kurikulum pendidikan berdasarkan kitab-kitab tata bahasa Arab yang dipakai di Indonesia khusunya Minangkabau, maka al-Jurumiyah dan Alfiyah dalam ilmu nahwu masih menjadi pilihan yang utama. Meskipun di awal abad 20 ini dibarengi dengan kitab-kitab syarah dari al-Jurumiyah dan Alfiyah.[7]
Literasi yang orisinil dalam bidang tata bahasa Arab tetap berlanjut hingga abad 20 M di Minangkabau, walaupun tidak sebanyak pada bidang tasawuf, tauhid dan fiqih. Salah satu karya tentang tata bahasa Arab yang dihasilkan oleh ulama Minangkabau ialah Kashafatul ‘Awis}ah fi Sharh Matan al-Jurumiyah[8] sebuah karya yang ditulis oleh Syekh Muhammad Jamil Jaho yang berisikan tentang komentar terhadap kitab al-Jurumiyah. Ditulisnya kitab ini berdasarkan permintan murid-murid Madrasah Tarbiyah Islamiyah agar Syekh Jamil Jaho dapat menulis sebuah penjelasan terhadap kitab al-Jurumiyah.[9] Hal ini bisa menjadi bukti bahwa adanya keinginan dari para pelajar ketika itu untuk mencoba sesuatu yang baru atau ingin sesuatu yang lebih praktis daripada kitab-kitab ala Timur Tengah yang mereka pelajari.


[1] Azyumardi Azra, SURAU : Pendidikan Islam Tradisional dalam Transisi dan Modernisasi ( Ciputat : PT Logos Wacana Ilmu, 2003), 9. Surau itu sendiri sebenarnya telah ada sebelum Syekh Burhanuddin pulang dari Aceh, hanya  saja fungsinya bukan sebagai lembaga pendidikan. Baca lebih lanjut Sidi Gazalba, Masjid Pusat Ibadat dan Kebudayaan Islam ( Jakarta: Pustaka Antara, 1983),314-316.
[2] Hal ini dapat dilihat pada katalog-katalog naskah di Minangkabau seperti, Katalogus Manuskrip dan Skriptorium Minagkabau oleh M. Yusuf dkk, Seri I Katalog Naskah Pasaman Surau Lubuk Landur dan Mesjid Shaykh Bonjol dan Panduan Pusaka Koleksi Syekh Burhanuddin Ulakan  oleh Ahmad Taufiq Hidayat, Apria Putra dan Chairullah Ahmad.
[3] naskah ini telah didigitalisasi oleh Komunitas Suluah dengan kode foto 007/SP.SLH/2012
[4]Naskah ini juga memiliki varian lain, varian ini masih terdapat pada koleksi Surau Pondok Ulakan dengan nomor foto 11/SP.SLH/2012. Naskah ini ditulis dan dimiliki oleh Imam Kamaluddin Ulakan.
[5] Ini menjadi salah satu bukti transmisi keilmuan ulama Nusantara  dengan ulama Timur Tengah lewat jaringan ulama. Untuk lebih lanjut mengenai bentuk koneksi dan jaringan ulama Nusantara dengan Timur Tengah baca Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVII ( Jakarta : Kencana Prenada Media Group, 2004).
[6] Untuk mengetahui bentuk-bentuk karya-karya yang dihasilkan oleh ulama-ulama Minangkabau awal abad 20 baik dalam bentuk buku dan majalah lihat Apria Putra dan Chairullah Ahmad, Bibliografi Karya Ulama Minangkabau Awal Abad XX, Dinamika Intelektual Kaum Tua dan Kaum Muda ( Diterbitkan atas Kerjasama  Komunitas Suluah dan Indonesian Heritage Center, 2011). Lihat juga M. Sanusi Latief, Gerakan Kaum Tua dan Kaum Muda di Minangkabau. Disertasi Doctoral pada IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Tahun 1988. Baca juga Mhd. Nur, Gerakan Kaum Sufi di Minangkabau Awal Abad ke 20. Tesis Magister pada Universitas Gajah Mada, tahun 1991.
[7] untuk melihat kitab-kitab yang digunakan pada madrasah dan pesantren, baca lebih lanjut Martin van Bruinessen, Kitab Kuning Pesantren dan Tarekat, Tradisi-Tradisi Islam di Indonesia ( Bandung : Mizan, 1995 ), 148-153.
[8] Nasakh ini dicetak pada tahun 1940 pada percetakan Tandikek. Lihata Jamil Jaho, Kashafatul ‘Awi>s}ah ( Tandikek, 1940 ).
[9] Jamil Jaho, Kashafatul ‘Awi>s}ah, 2